Analisis puisi “kudekap kusayang-sayang” dengan pendekatan SEMIOTIK

Posted: Agustus 3, 2010 in Uncategorized

BAB I
Pendahuluan

1. Pendahuluan
1.1. Latar belakang
Dalam mengapresiasi puisi sering kali menyebabkan kecenderungan pendekatan dalam mengkaji karya sastra. Kecenderungan pertama akan memperhatikan kesadaran dan ketidaksadaran pengarang, serta seluruh lingkungan sosial, politik, dan intelektualnya sebagai penentu makna puisi. Kecenderungan kedua beranggapan bahwa makna puisi yang sesungguhnya merupakan hasil atau akibat dari interaksi antara pembaca dan puisi yang dibaca. Jadi, kecenderungan kedua bertentangan dengan kecenderungan yang pertama: apabila yang pertama berpusat pada kausalitas atau sebab-musabab kelahiran pisi, maka yang kedua berpusat pada efek puisi.
Konteks yang pertama adalah realitas, kenyataan, kebenaran, atau kehidupan yang ditiru puisi, sedangkan konteks yang kedua justru yang menunjukkan konteks yang berada jauh dari realitas kehidupan, yaitu puisi atau karya sastra lainnya . Dengan demikian, ada pengkajian puisi yang mendekati karya satra dengan realitas atau kehidupan di luar seni dan mengukur keakuratan dan kebenaran tokoh, tindakan, dan latar yang ditampilkan dalam puisi bedasarkan konteks tersebut. Sebaliknya, ada juga pengkajian puisi yang mendekatkan diri pada konteks puisi sebagai keseluruhan yang berada di luar realitas.
Pada pembahasan puisi “Kudekap Kusayang-sayang” karya Emha Ainun Najib akan menggunakan pendekatan intertekstual dengan model semiotik. Pemilihan puisi Emha Ainun Najib berdasarkan pertimbangan bahwa puisinya telah menjadi fenomena baru dalam perkembangan khazanah sastra Indonesia. Fenomena Baru itu tampak dari pengucapan puisinya yang bernuansa religi. Sebagai puisi modern, puisi-puisi Emha Ainun Najib tentu saja berwujud sastra tulis. Akan tetapi, untuk kepentingan pengucapan puisinya, Ia “menaburkan ruh” religi, yang bersumber dari agama
Karena seni hasil tradisi lisan tak dapat dipisahkan dari seni pertunjukan (Teeuw, 1994), pemaduan seni itu dengan seni modern yang tradisi tulis menimbulkan konsekuensi-konsekuensi tertentu. Misalnya, kita dapat melihat bahwa keutuhan puisi Emha Ainun Najib akan tampak secara optimal ketika dibacakan secara lisan, khususnya oleh penyairnya sendiri. Akan tetapi, puisi bukanlah untuk penyairnya saja. Sebagai karya sastra, puisi boleh dibaca oleh siapa saja , yang demikian puisi dapat hadir dengan interpretasi yang berbeda-beda, bergantung pada pengalaman atau ground pembacanya.

1.2. Pendekatan dalam mengapresiasi puisi“Kudekap Kusayang-sayang” karya Emha Ainun Najib, menggunakan pendekatan intertekstual model semiotik.

Tulisan ini akan menggunakan pendekatan semiotik; jadi, teori yang digunakan pun adalah teori semiotika. Semiotika adalah ilmu tentang tanda, cara kerjanya, penggunaannya, dan apa yang kita lakukan dengannya (Zaimar, 1990; Zoest, 1993).
Didalam sebuah teks terdapat ikon apabila orang melihat adanya persamaan suatu tanda tekstual dengan acuannya. Persoalannya adalah mengetahui pada kondisi bagaimana dapat dibicarakan soal kemiripan. Untuk memecahkan masalah ini, yang terbaik adalah mengontorfersikan dua deskripsi, deskripsi tanda dengan acuannya.
Menurut Aminuddin (1997), wawasan semiotikdalam kajian sastra memiliki tiga asumsi. Pertama, karya sastra merupakan gejala komunikasi yang berkaitan dengan pengarang, karya sastra sebagai sistem tanda, dan pembaca. Kedua, karya sastra merupakan salah satu bentuk penggunaan sistem lambang yang memiliki struktur. Ketiga, karya sastra merupakan fakta yang harus direkonstruksikan oleh pembaca sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Analisis puisi “Kudekap Kusayang-sayang” dengan pendekatan semiotik

“Kudekap Kusayang-sayang”

Kepadamu kekasih kupersembahkan segala api keperihan
di dadaku ini demi cintaku kepada semua manusia
Kupersembahkan kepadamu sirnanya seluruh kepentingan
diri dalam hidup demi mempertahankan kemesraan rahasia,
yang teramat menyakitkan ini, denganmu
Terima kasih engkau telah pilihkan bagiku rumah
persemayaman dalam jiwa remuk redam hamba-hambamu
Kudekap mereka, kupanggul, kusayang-sayang,
dan ketika mereka tancapkan pisau ke dadaku,
mengucur darah dari mereka sendiri,
sehingga bersegera aku mengusapnya,
kusumpal, kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku
Kemudian kudekap ia, kupanggul, kusayang-sayang,
kupeluk,
kugendong-gendong, sampai kemudian mereka tancapkan
lagi pisau ke punggungku, sehingga mengucur lagi darah
batinnya, sehingga aku bersegera mengusapnya,
kusumpal,
kubalut dengan sobekan-sobekan bajuku, kudekap,
kusayang-sayang.

Emha Ainun Najib, 1994

Puisi “Kudekap Kusayang-sayang” karya Emha Ainun Najib, terdiri atas dua puluh larik dan masing-masing larik terdiri atas satu sampai dengan delapan kata. Dengan melihat jumlah larik dan kata-katanya itu, kita dapat mengelompokkannya ke dalam puisi pendek. Kemudian, apabila memperhatikan kata-katanya lebih lanjut, kita akan mendapat kesan bahwa kata-kata puisi itu termasuk kata komplek karena hanya terdiri atas sembilan kata kata yang diulang-ulang, yaitu kepadamu, kupersembahkan, kudekap kusayang-sayang, kupangul,mengucur, darah, mereka, tancapkan, pisau, bersegera, mengusapnya, demi, kusumpal, dan kubalut. Yang lainnya adalah pronomina persona pertama (-ku-), persona kedua (kau-), dan pronomina persona ketiga (mereka, ia ).
Yang menarik dan perlu kita perhatikan dalam puisi itu adalah susunan frasa atau kata-katanya. Larik ke-9 (ke dadaku) merupakan pengulangan larik ke-2 (di dadaku), akan tetapi dengan susunan terbalik (inversi).
Selain pembalikan, dalam puisi itupun terdapat penggabungan kata tancapkan, bersegera. Menurut EYD (Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan) seharusnya ditancapkan/menancapkan
Jika puisi ini di artikan, bahwa penyair ingin berusaha dengan keteguhan hati nya walaupun sakit yang dirasakan namun akan tetap mengajarkan ilmu keagamaan pada masyarakat. Ini terbukti dalam kalimat “kudekap mereka, kupanggul, ku sayang-sayang”. Penyair menggunakan kata-kata seprti itu seolah-olah ingin merngkul masyarkatnya dengan tujuan beribadah kepada Allah SWT.
“Di dadaku ini” merupakan ikon yaitu kata “di dadaku ini” menandakan diri penyair, sedang kata “kupesembahkan” merupakan tindakan yang dilakukan penyair untuk menyerahkan semua permasalahan kepada Tuhannya. Dalam kata “kudekap mereka” menandakan kedekatan dengan masyarakat yang sangat erat, dan kata “kupanggul” menandakan sanggup atau rela dengan apa yang akan dirasakan, sedangkan, kata “kusumpal” menandakan hanya diam dengan seribu bahasa, kata “kubalut dengan sobekan-sobekan baju” menandakan bahwa penyair hanya bisa memohon kepada tuhan dengan do’a.
Kalimat “api keperihan” merupakan indeks tanda betapa perihnya menerima cacian dan gunjingan masyarakat, sedangkan kata “sirnanya” menunjukkan tanda sesuatu yang hilang, kata “persemayaman” merupakan simbol kehidupan yang begitu mendalam

IKON INDEKS SIMBOL
Di dadaku
Ku persembahkan
Mempertahankan
tancapkan
Api keperihan
Sirnanya
hambamu
Kekasih
Kepadamu
Kemesraan rahasia
Remuk redam
Pisau
Baju
Persemayaman

2. Anlisis puisi “Doa Syukur Sawah Ladang” dengan pendekatan semiotic

Doa Syukur Sawah Ladang

Atas padi yang kau tumbuhkan dari sawah lading bumimu
kupanjatkan syukur dan kunyanyikan lagu gembira sebagaimana padi itu
sendiri berterimakasih kepadamu dan bersukaria
lahir dari tanah dan menguning di sawah, menjadi keras ditampah,
kemudian sebagai nasi memasuki tenggorokan hambamu yang gerah,
adalah cara yang mulia bagi padi untuk tiba kembali dipangkuanmu
betapa gembira hatiku pisang yang dikuliti dan dimakan oleh manusia,
karena demikianlah tugas leluhurnya didunia, pasrah dipengolahan usus para hamba
menjadi sari kesehatan dan kesejahteraan
demikianpun betapa udara yang dihirup
air yang direguk, sungai yang mengairi persawahan,
kolam tempat anak-anak berenang,
lautan penyedia bermilyaran ikan serta kandungan bumimu
yang menyiapakan berjuta macam perhiasan
atas limpahan kasih sayangmu kepadaku
Yaa Allah, baik yang berupa rejeki dan cobaan
kelebihan atau kekurangan, kudendangkan rasa
bahagia dan tekadku sebisa-bisa untuk membalas cinta
aku bersembahyang kepadamu berjamaah dengan langit dan bumimu
dengan siang dan malammu dengan matahari yang setia bercahaya,
dan angin yang menghembuskan kedesa-desa.

Emha Ainun Najib, 1988

Dalam pemaknaan puisi “Doa Syukur Sawah Ladang” merupakan ungkapan rasa syukur penyair kepada Tuhan YME. yang telah memberikan kesuburan terhadap sawah dan ladangnya. Kata “dari sawah ladang” merupakan ikon yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang serupa dengan bentuk objeknya, sedangkan pada kata “persawahan, mengairi, berenang, kunyanyikan” merupakan indeks yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang mengisyaratkan petandanya yaitu “dari sawah lading”.
Sedangkan pada kata “tenggorokan hambamu yang gerah” merupakan simbol dari kehidupan yang nyata, bahwa manusia butuh makan, pada kata “bermilyaran ikan”juga merupakan simbol, bahwa di laut banyak sekali satwa yang hidup, sedangkan pada kata “kandungan bumimu” yang menjadi symbol dari hasil bumi, bahwa kekayaan bumi sangat banyak, misalkan biji emas, biji timah, biji baja, batu bara dan lai-lain, pada kata “bersembahyang kepadamu” menunjukkan atau symbol dari ketaqwaan penyair/ manusia dengan menjalankan yang telah disyareatkan oleh Allah SWT.

IKON INDEKS SIMBOL
Dari sawah
Sungai
Bersukaria
Hambamu
Kesejahteraan Persawahan
Mengairi
Kunyanyikan
Berenang
Kudendangkan rasa Tenggorokan hambamu yang gerah
Bermilyaran ikan
Kandungan bumimu
Berjuta macam perhiasan
Bersembahyang kepadamu
Dengan langit dan bumimu

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s